En bref
- Kebijakan fiskal era Prabowo Subianto dibangun di atas dua tuntutan yang kerap bertabrakan: menjaga defisit anggaran tetap aman, namun tetap membiayai prioritas pembangunan yang ambisius untuk ekonomi nasional.
- RPJMN 2025–2029 mematok target kenaikan pendapatan negara (pajak dan PNBP) serta belanja yang lebih produktif; inilah sumber utama pengaruh fiskal terhadap kualitas belanja.
- Reformasi administrasi pajak (Coretax), penajaman insentif, dan optimalisasi dividen BUMN menjadi tumpuan memperkuat kas negara tanpa memukul konsumsi.
- Pengendalian defisit bukan sekadar angka, tetapi juga soal kredibilitas pasar: dampaknya bisa terasa pada rupiah, yield SBN, dan sentimen bursa.
- Kunci keberhasilan terletak pada pengelolaan keuangan yang disiplin: memilih proyek, mengukur manfaat, dan menggeser belanja ke hal yang menaikkan produktivitas jangka panjang.
Di ruang rapat terbatas di Jakarta, Presiden Prabowo Subianto menegaskan satu garis besar yang mudah diucapkan namun sulit dijalankan: APBN harus tetap dijaga agar defisit anggaran tidak membesar, sambil memastikan anggaran pemerintah sanggup mendorong pertumbuhan ekonomi. Dalam praktiknya, arahan itu menuntut kementerian ekonomi—khususnya Kementerian Keuangan—mengubah cara pandang dari “berapa besar dibelanjakan” menjadi “seberapa efektif belanja menggerakkan produktivitas”. Di saat yang sama, dinamika 2026 menghadirkan tekanan tambahan: ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga komoditas, serta kebutuhan perlindungan sosial dan penciptaan kerja yang tidak bisa menunggu.
Di sinilah kebijakan fiskal menjadi arena tarik-menarik antara ambisi dan kehati-hatian. Pemerintah perlu membiayai program prioritas—dari infrastruktur, pendidikan-kesehatan, hingga penguatan industri—tanpa membiarkan bunga utang memakan ruang fiskal. Sejumlah target dalam RPJMN 2025–2029 memperlihatkan upaya menyeimbangkan dua kutub tersebut: menaikkan rasio penerimaan terhadap PDB, mengarahkan belanja ke pos produktif, dan menjaga rasio utang tetap terkendali. Bagi publik, pertanyaannya bukan hanya “defisit berapa persen”, melainkan “defisit itu menghasilkan apa untuk ekonomi nasional?”
Arah kebijakan fiskal Prabowo Subianto: disiplin defisit anggaran sambil membiayai prioritas pembangunan
Arahan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas—yang juga membahas persiapan nota keuangan dan RAPBN—menunjukkan penekanan pada pengelolaan keuangan yang lebih terukur. Intinya, anggaran pemerintah harus bekerja sebagai instrumen pertumbuhan, bukan sekadar daftar belanja. Ketika belanja meningkat lebih cepat daripada penerimaan, celahnya otomatis melebar menjadi defisit anggaran. Maka, disiplin fiskal bukan hanya menahan belanja, tetapi memastikan setiap rupiah belanja punya “hasil” yang bisa ditagih: perbaikan layanan, daya saing, atau produktivitas.
Dalam RPJMN 2025–2029, pemerintah menetapkan sasaran penerimaan negara pada 2029 berada di kisaran 13,75%–18,00% terhadap PDB, naik dari baseline 2024. Penerimaan pajak ditargetkan meningkat ke 11,52%–15,00% PDB, sementara PNBP di kisaran 2,21%–2,99% PDB. Di sisi belanja, targetnya 16,20%–20,50% PDB pada 2029. Artinya, ada ruang belanja yang lebih besar, tetapi “harga tiketnya” adalah reformasi penerimaan dan peningkatan kualitas belanja.
Bagian yang sering luput dari perdebatan publik adalah target defisit dalam RPJMN: sekitar -2,45% sampai -2,50% PDB pada 2029, dari baseline -2,29% pada 2024. Perubahan yang terlihat kecil itu menyiratkan strategi bertahap: pemerintah tidak sedang merancang “kejutan defisit”, melainkan menata ulang komposisi belanja dan memperlebar basis penerimaan. Jika strategi penerimaan meleset, tekanan terhadap defisit akan terasa lebih cepat karena belanja prioritas biasanya bersifat “lengket”—sulit dikurangi di tengah jalan.
Contoh konkretnya bisa dilihat pada kisah fiktif “Bu Rina”, pemilik usaha katering rumahan di Bekasi yang ingin naik kelas menjadi pemasok dapur sekolah. Ketika ada program makan bergizi atau belanja pangan pemerintah, Bu Rina melihat peluang. Namun, peluang itu hanya berdampak luas jika desain program memastikan UMKM lokal bisa masuk rantai pasok, pembayarannya tepat waktu, dan standar kualitas jelas. Jika tidak, belanja besar justru jadi kebocoran atau terserap pada segelintir pemasok besar. Di titik inilah pengaruh fiskal terhadap ekonomi riil diuji.
Presiden juga menekankan deregulasi untuk iklim usaha. Ini penting karena deregulasi sering menjadi “pasangan” kebijakan fiskal: saat ruang APBN terbatas, pemerintah bisa mendorong investasi melalui penyederhanaan izin, kepastian lahan, dan efisiensi logistik. Ketika deregulasi berjalan, investasi nasional meningkat tanpa harus menambah belanja secara agresif. Di sisi lain, jika deregulasi lambat, pemerintah cenderung “menambal” dengan subsidi atau proyek, yang pada akhirnya menambah risiko defisit.
Di pasar keuangan, disiplin fiskal sering dibaca sebagai sinyal kredibilitas. Ketika sentimen pasar rapuh, tekanan bisa muncul pada IHSG dan arus dana. Pembaca yang mengikuti dinamika bursa dapat melihat bagaimana sentimen negatif mudah menekan indeks, misalnya dalam ulasan seperti IHSG turun dan psikologi pasar. Insight akhirnya: disiplin defisit bukan sekadar “kepatuhan angka”, melainkan alat menjaga kepercayaan sehingga pembiayaan pembangunan tetap murah.
Kalimat kuncinya: arah fiskal Prabowo menuntut keseimbangan—belanja boleh meningkat, tetapi hanya jika penerimaan, tata kelola, dan deregulasi berjalan serempak.

Defisit anggaran sebagai alat dan batas: mekanisme pengaruh fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi nasional
Defisit anggaran sering dipahami publik sebagai “utang bertambah”. Padahal, dalam desain kebijakan modern, defisit bisa menjadi alat penyangga ekonomi: ketika daya beli melemah atau investasi swasta tertahan, belanja negara dapat menjadi penopang agar roda produksi tidak macet. Namun defisit juga batas: jika terlalu besar, biaya bunga naik, ruang belanja menyusut, dan stabilitas makro—termasuk rupiah—menjadi taruhannya. Di era Prabowo, debatnya bukan “defisit boleh atau tidak”, melainkan “defisit dipakai untuk apa dan dibiayai dengan cara apa”.
RPJMN menempatkan keseimbangan primer pada kisaran negatif kecil pada 2029 (sekitar -0,15% sampai -0,20% PDB). Keseimbangan primer ini penting karena menggambarkan kemampuan pemerintah membiayai belanja di luar bunga utang. Jika keseimbangan primer semakin negatif, maka sebagian belanja rutin sebenarnya “dibiayai utang”, bukan penerimaan. Dalam situasi suku bunga global yang tidak selalu bersahabat, ini bisa menjadi sinyal risiko.
Untuk menjelaskan mekanismenya, bayangkan ada tiga jalur pengaruh fiskal terhadap pertumbuhan ekonomi:
- Jalur permintaan: belanja barang/jasa pemerintah memutar konsumsi dan produksi, terutama saat sektor swasta menahan ekspansi.
- Jalur produktivitas: belanja infrastruktur, pendidikan, kesehatan, riset membuat biaya logistik turun, kualitas SDM naik, dan output jangka panjang meningkat.
- Jalur ekspektasi: disiplin defisit menekan premi risiko, menurunkan biaya modal, dan mendorong investasi swasta.
Masalahnya, jalur pertama cepat terasa tapi sering boros jika tak tepat sasaran, sedangkan jalur kedua lebih lambat namun paling menentukan daya saing. Kebijakan fiskal yang “kelihatan” besar belum tentu produktif. Misalnya, membangun jalan tanpa konektivitas ke pelabuhan/logistik dapat menciptakan aset menganggur, sementara program pelatihan tanpa link ke industri hanya menambah sertifikat, bukan pekerjaan.
Di 2026, pengendalian defisit juga terkait erat dengan stabilitas rupiah. Ketika investor melihat jalur pembiayaan defisit terlalu bergantung pada utang jangka pendek atau porsi asing yang sensitif, volatilitas meningkat. Koordinasi fiskal-moneter menjadi penting, dan publik bisa menelusuri perspektif seputar stabilitas mata uang dalam bahasan seperti Bank Indonesia dan stabilitas rupiah. Pesannya jelas: defisit yang “sehat” adalah defisit yang tidak menekan stabilitas harga dan nilai tukar.
Lebih jauh, dunia usaha melihat defisit melalui kacamata suku bunga dan permintaan. Ketika pemerintah menerbitkan surat utang besar-besaran, ada potensi “crowding out”: dana perbankan terserap ke SBN, kredit ke sektor produktif mengetat. Pemerintah biasanya mengurangi risiko ini lewat pendalaman pasar keuangan dan strategi tenor utang yang lebih panjang. RPJMN menyebut SBN diarahkan untuk investasi produktif dan proyek strategis. Artinya, pembiayaan pun harus “bercerita”: publik perlu tahu proyek apa yang didorong dan manfaatnya.
Untuk contoh yang dekat, lihat dinamika logistik dan energi di kawasan timur. Ketika pembangunan konektivitas mendorong aktivitas industri dan distribusi, dampak multiplier-nya besar. Narasi seperti Balikpapan sebagai simpul energi dan logistik menunjukkan bagaimana belanja yang tepat bisa memperkuat arus barang, menurunkan biaya, dan membuat investasi lebih masuk akal. Jika proyek seperti ini dibiayai defisit namun menghasilkan peningkatan basis pajak di masa depan, defisit menjadi jembatan, bukan beban.
Kalimat kuncinya: defisit yang terkendali dapat mempercepat ekonomi nasional jika ia memperbesar produktivitas, bukan sekadar memperbesar pengeluaran.
Perdebatan defisit tidak bisa dilepaskan dari peta risiko global. Ketegangan geopolitik dan rantai pasok dapat mengubah proyeksi ekspor, inflasi impor, dan biaya energi—yang akhirnya memengaruhi penerimaan dan belanja.
Di saat yang sama, pelaku pasar akan menilai apakah strategi pembiayaan defisit sinkron dengan arah kebijakan moneter dan kondisi PDB. Bacaan terkait proyeksi dan konteks makro dapat dirangkai, misalnya melalui ulasan Bank Indonesia dan outlook PDB 2026, agar publik memahami mengapa target defisit tidak berdiri sendiri.
Strategi menaikkan penerimaan: Coretax, PNBP, dan insentif pajak yang menarget investasi nasional
Mendorong belanja produktif tanpa membuat defisit anggaran melebar berarti pemerintah harus serius pada penerimaan. RPJMN menggariskan arah yang cukup teknokratis: implementasi Coretax secara menyeluruh, reformasi pajak yang lebih progresif, penegakan hukum untuk kepatuhan, serta simplifikasi proses bisnis dan pembenahan tata kelola. Ini terdengar administratif, tetapi dampaknya langsung ke rasa keadilan dan biaya kepatuhan wajib pajak.
Coretax dapat dipahami sebagai “mesin utama” administrasi pajak yang menyatukan data, mempercepat layanan, dan menutup celah pelaporan. Ketika sistem berjalan baik, UMKM tidak harus bolak-balik membawa berkas, perusahaan menengah tidak perlu menunggu lama restitusi, dan otoritas bisa mengidentifikasi risiko kepatuhan secara lebih presisi. Di level makro, perbaikan administrasi sering lebih efektif daripada sekadar menaikkan tarif, karena meningkatkan kepatuhan tanpa menambah beban yang menghukum aktivitas ekonomi.
Dalam kehidupan nyata, tokoh fiktif “Pak Dimas”, pemilik pabrik komponen elektronik kecil di Batam, sering mengeluh tentang ketidakpastian insentif dan lamanya proses administrasi. Ia tidak meminta pajak nol, tetapi ia ingin kepastian: jika investasinya masuk kategori prioritas (misalnya komponen untuk energi bersih), insentif apa yang bisa diperoleh, berapa lama berlaku, dan bagaimana cara mengurusnya. Ketika insentif jelas, investasi terjadi. Ketika abu-abu, uangnya parkir di deposito. Itulah mengapa RPJMN menekankan penajaman tax incentive berbasis sektor dan wilayah prioritas, termasuk teknologi tinggi seperti semikonduktor dan energi bersih.
Selain pajak, RPJMN juga menekankan PNBP: reformasi PNBP sumber daya alam, optimalisasi dividen BUMN, pemanfaatan aset negara, dan sinergi antarinstansi lewat inovasi layanan digital. Langkah-langkah ini penting karena PNBP sering berfluktuasi mengikuti harga komoditas. Dengan tata kelola yang lebih rapi dan portofolio aset yang lebih produktif, penerimaan bisa lebih stabil dan tidak sepenuhnya bergantung pada “cuaca” pasar global.
Namun, kebijakan penerimaan yang baik harus membaca siklus ekonomi. Bila pemerintah terlalu agresif mengejar penerimaan saat ekonomi melemah, hasilnya bisa kontraproduktif: konsumsi turun, laba usaha turun, basis pajak mengecil. Karena itu, desain kebijakan sering memerlukan keseimbangan antara intensifikasi (mengoptimalkan basis yang ada) dan ekstensifikasi (memperluas basis) dengan memperhatikan kemampuan bayar.
Dalam konteks 2026, paket stimulus dan insentif yang tepat sasaran sering menjadi penyangga agar penerimaan tidak jatuh akibat perlambatan. Referensi mengenai diskursus stimulus bisa ditautkan, misalnya paket stimulus ekonomi 2026, untuk memahami mengapa beberapa insentif justru dipakai untuk menjaga basis pajak jangka menengah, bukan mengurangi penerimaan permanen.
Di level daerah, insentif juga berperan dalam mengarahkan investasi ke koridor tertentu. Ketika insentif dipadukan dengan infrastruktur dan kemudahan izin, hasilnya lebih terlihat. Gambaran kebijakan insentif di kota besar dapat dibaca melalui insentif pajak di Jakarta dan Surabaya, yang relevan untuk menilai bagaimana pusat-daerah menyelaraskan strategi menarik industri.
Kalimat kuncinya: penerimaan yang naik secara struktural—melalui sistem, tata kelola, dan insentif yang presisi—adalah “bahan bakar” agar prioritas pembangunan tidak membengkakkan defisit.
Prioritas pembangunan dalam anggaran pemerintah: infrastruktur, SDM, dan proyek strategis sebagai pengungkit ekonomi nasional
RPJMN menegaskan belanja negara akan dioptimalkan pada belanja produktif dan bersifat countercyclical untuk percepatan investasi publik. Dalam bahasa sederhana, pemerintah ingin menggeser fokus dari belanja yang sekadar habis pakai menuju belanja yang menciptakan kapasitas baru. Pusat gravitasinya ada pada tiga bidang: infrastruktur, pendidikan-kesehatan, serta riset dan inovasi. Ketiganya adalah fondasi untuk ekonomi yang tahan guncangan dan mampu naik kelas.
Di infrastruktur, tantangan klasik Indonesia bukan hanya membangun, tetapi memastikan konektivitas antarpulau dan antarkawasan berjalan. Jalan, pelabuhan, bandara, dan jaringan energi harus membentuk satu sistem. Jika tidak, biaya logistik tetap tinggi dan industri kesulitan bersaing. Inilah mengapa proyek strategis seharusnya dinilai bukan dari panjang jalan atau jumlah gedung, tetapi dari dampaknya pada biaya distribusi, ketepatan waktu pengiriman, dan kepastian pasokan energi.
Perdebatan mengenai pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) sering masuk ke ranah simbolik. Namun dari kacamata fiskal, yang lebih penting adalah tahapan pembiayaan, prioritas fungsi, dan efek jaringan terhadap ekonomi kawasan. Infrastruktur legislatif dan pemerintahan, misalnya, harus dikaitkan dengan efisiensi administrasi dan dampak ke ekonomi sekitar. Pembaca yang ingin melihat konteks proyek ini dapat merujuk ke pembangunan gedung legislatif di IKN. Pertanyaan yang patut diajukan: apakah belanja tersebut mempercepat layanan publik dan menarik investasi, atau justru menambah beban operasi?
Di bidang SDM, belanja pendidikan dan kesehatan kerap dianggap “wajib” sehingga kurang menarik perhatian. Padahal, di era ekonomi digital dan otomasi, penguatan SDM adalah kebijakan industri terselubung: ia menentukan apakah tenaga kerja mampu berpindah dari pekerjaan berupah rendah ke pekerjaan bernilai tambah. Diskusi tentang dampak teknologi terhadap pasar kerja membantu memahami urgensinya; misalnya dampak AI terhadap pasar kerja memberi gambaran mengapa belanja pelatihan perlu dirancang bersama industri, bukan sekadar proyek pelatihan.
Di sisi afirmatif, RPJMN menyatakan kebijakan belanja memberi perhatian khusus untuk mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial-ekonomi. Ini bukan hanya urusan bantuan tunai. Desainnya bisa berupa perbaikan kualitas sekolah, akses kesehatan, dan penguatan ketahanan bencana agar keluarga rentan tidak jatuh miskin berulang. Contoh konteks kebencanaan dan respons publik, seperti Prabowo meninjau banjir di Sumatra, memperlihatkan bahwa belanja pemulihan bukan sekadar biaya darurat; ia menentukan apakah aktivitas ekonomi lokal bisa pulih cepat atau tersendat lama.
Di tingkat mikro, prioritas pembangunan yang baik seharusnya terasa pada pelaku usaha. Tokoh fiktif “Maya”, pemilik usaha pengolahan kopi di Toraja, membutuhkan jalan yang layak, listrik stabil, dan akses pembiayaan. Ketika pemerintah menaruh anggaran pada konektivitas dan layanan dasar, biaya angkut turun dan Maya bisa memperluas pasar. Dalam skenario seperti ini, belanja negara berubah menjadi pendorong investasi nasional karena risiko bisnis mengecil.
Untuk memperjelas hubungan antara prioritas belanja dan indikator fiskal, berikut ringkasan sasaran RPJMN yang sering dibahas publik.
Indikator Fiskal (RPJMN 2025–2029) |
Baseline (2024) |
Sasaran (2029) |
Makna bagi ekonomi nasional |
|---|---|---|---|
Pendapatan negara (% PDB) |
12,42% |
13,75%–18,00% |
Ruang belanja bertambah tanpa memperlebar defisit |
Penerimaan pajak (% PDB) |
10,07% |
11,52%–15,00% |
Basis penerimaan lebih kuat melalui kepatuhan dan sistem |
PNBP (% PDB) |
2,61% |
2,21%–2,99% |
Stabilisasi penerimaan nonpajak dan optimalisasi aset |
Belanja negara (% PDB) |
15,11% |
16,20%–20,50% |
Penekanan pada belanja produktif: infrastruktur, SDM, inovasi |
Defisit APBN (% PDB) |
-2,29% |
-2,45% sampai -2,50% |
Menjaga kredibilitas fiskal sambil tetap ekspansif terukur |
Rasio utang (% PDB) |
39,5% |
39,01%–39,10% |
Menahan risiko pembiayaan agar bunga tidak menggerus belanja prioritas |
Catatan pentingnya: angka-angka tersebut baru menjadi “kebijakan” ketika diterjemahkan ke pilihan proyek dan kualitas eksekusi. Jika proyek strategis dipilih dengan disiplin dan dikelola transparan, ia menambah kapasitas ekonomi. Jika tidak, ia menambah beban rutin.
Kalimat kuncinya: belanja prioritas yang produktif adalah cara paling masuk akal untuk membuat kebijakan fiskal terasa nyata tanpa mengorbankan disiplin defisit.

Pembiayaan, utang, dan kepercayaan pasar: bagaimana pengelolaan keuangan menjaga ruang pembangunan
Di balik angka defisit, selalu ada pertanyaan lanjutan: dibiayai dengan apa? RPJMN menegaskan pembiayaan akan berfokus pada pengelolaan utang dan pinjaman dengan memperhatikan tingkat defisit yang aman serta komposisi optimal untuk meminimalkan risiko terhadap APBN. Ini bukan sekadar jargon. Komposisi utang—tenor, mata uang, pemegang, dan instrumen—menentukan seberapa rentan APBN terhadap gejolak.
Jika porsi utang jangka pendek besar, pemerintah menghadapi risiko refinancing: saat jatuh tempo, harus menerbitkan utang baru dalam kondisi pasar apa pun. Bila kondisi pasar buruk, biaya bunga melonjak. Jika porsi utang valas terlalu dominan, pelemahan rupiah bisa langsung menaikkan beban pembayaran. Karena itu, strategi pengelolaan utang yang hati-hati menjadi bagian penting dari pengelolaan keuangan negara.
Di sisi lain, pembiayaan tidak harus selalu lewat utang langsung. RPJMN menyebut optimalisasi skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU), pendalaman pasar keuangan, serta penguatan peran BUMN. KPBU dapat membantu proyek infrastruktur berjalan tanpa seluruh beban ditanggung APBN di depan. Namun KPBU yang buruk bisa menciptakan “utang tersembunyi” berupa kewajiban jangka panjang. Karena itu, transparansi kontrak dan penilaian manfaat ekonomi menjadi kunci.
Untuk investor, disiplin fiskal berhubungan langsung dengan “harga” Indonesia: yield obligasi dan premi risiko. Ketika pasar percaya pemerintah mampu mengendalikan defisit dan menjaga rasio utang, biaya pendanaan turun, dan ruang belanja produktif justru membesar. Sebaliknya, jika narasi fiskal tidak konsisten, dampaknya cepat terasa pada aliran modal. Referensi tentang lanskap investasi nasional dan prospeknya dapat dibaca melalui investasi Indonesia 2026, yang relevan untuk memahami bagaimana persepsi risiko memengaruhi keputusan investor.
Pembiayaan juga bersinggungan dengan investasi asing dan arus modal. Ketika defisit besar dan pembiayaannya agresif, sebagian investor asing bisa meminta imbal hasil lebih tinggi. Namun ketika kebijakan fiskal kredibel, arus modal cenderung stabil dan investasi langsung lebih mudah masuk. Diskusi tentang kaitan PDB dan investasi asing memberi konteks tambahan, misalnya PDB Indonesia dan investasi asing.
Selain pembiayaan, pemerintah juga menyebut SBN diarahkan untuk investasi yang mendorong produktivitas, penurunan kemiskinan, serta mendukung proyek infrastruktur strategis. Ini penting dari sisi komunikasi kebijakan. Publik lebih mudah menerima defisit ketika ada “cerita manfaat”: rumah sakit rujukan meningkat, sekolah vokasi terkoneksi industri, irigasi menaikkan panen, atau pelabuhan menurunkan biaya ekspor. Tanpa cerita manfaat, defisit hanya terlihat sebagai angka yang menakutkan.
Geopolitik menambah lapisan kompleksitas. Ketegangan di kawasan perdagangan dan konflik regional dapat mengubah harga energi dan pangan, yang lalu memengaruhi subsidi dan PNBP. Untuk memahami bagaimana risiko eksternal dibaca di 2026, pembaca dapat menengok prediksi geopolitik 2026 atau isu spesifik seperti ketegangan di Laut Cina Selatan. Dalam kondisi seperti itu, fleksibilitas fiskal—ruang untuk merespons tanpa panik—menjadi aset yang mahal.
Karena itulah, disiplin defisit tidak bertentangan dengan pembangunan. Ia justru prasyarat agar pembangunan tidak berhenti di tengah jalan ketika pasar berubah. Ketika pemerintah menjaga kredibilitas, proyek berjalan lebih stabil, dan sektor swasta lebih berani mengambil risiko investasi.
Kalimat kuncinya: kualitas pembiayaan menentukan apakah defisit menjadi jembatan menuju produktivitas atau menjadi beban yang menyempitkan masa depan.
Perhatian publik terhadap pembiayaan makin besar ketika sentimen global berubah cepat, sehingga kebijakan fiskal perlu dikomunikasikan secara konsisten agar tidak memicu volatilitas yang tidak perlu.